Di Puncak Bromo aku meminangmu
: persembahan untuk para peziarah bromo
aku selama ini selalu menjauh darimu
terlena gemerlap memikat pesona nikmat selainmu
aku sempat menghujatmu
karena jalan menujumu serasa makin jauh dan berat
antara kantuk dan sadar yang penat
aku sempat menghujatmu
karena jalan menujumu begitu terjal dan berliku
ditusuk dingin kabut dini hari dan kantung udara yang menyempit
lalu tiba-tiba engkau tersenyum kepadaku
ketika kantung udaraku memadat berhenti menghela
seolah duniaku sedangĀ berakhir
engkau tersenyum kepadaku di balik wajah seorang sahabat
yang menyadarkanku dan menepuk punggungku
“ayo,pak, aku temani”
lalu tiba-tiba engkau tersenyum kepadaku
ketika aku merasa terlunta dalam senyap kesunyian
seolah sendirian di tengah lautan peziarahmu
engkau tersenyum kepadaku
lalu menjadikanku imam
bagi sekeluarga peziarah yang pernah bersujud di makkah dan madinah
pemimpinnya mengajak serombongannya makmum di belakangku
pemimpinnya tersenyum dan mengangguk kepadaku
diluruhkannya tangannya di hadapanku dan berkata
“mari, pak imam, waktunya makin sempit, semua sudah siap”
aku bertanya-tanya kepadamu
adakah engkau selalu tiba-tiba tersenyum kepada setiap peziarahmu
ataukah sesungguhnya engkau selalu tersenyum tanpa batas
hanya saja para peziarahmulah yang lambat menyadari senyummu?
lalu engkau tersenyum di sampingku
mencangkung di bibir puncak negeri di atas awan
menunggui mentari terbit dari bibirmu
engkau tersenyum bersamaku
dan menghamparkan kepadaku negeri lembah bawah kabut
engkau tunjukkan kepadaku puncaknya yang kecil
jauh di bawah setelapak kakiku
engkau berbisik lembut di telingaku
“barangsiapa merasa dirinya tertinggi di puncak
maka sesungguhnya dia sedang membangun fatamorgana
dan menyangga tiang-tiang kerajaan dengan debu kehancuran”
engkau tersenyum bersamaku
menghayati mentari yang mengintip kuning jingga
lalu kuning emas
lalu terang benderang
senyummu terpancar terang benderang bersama mentari yang penuh
memantul di kabut lembah yang berpilin-pilin
memancar di setiap wajah peziarah
dan masa laluku terlarut bersamamu
yang tersisa tinggal senyummu di mana-mana
terpancar terang benderang dan aku hanyut
dalam lembah kabut yang memadat pekat
tersembunyi makhluk-makhluk inferi lembah nindalf
senyummu terang benderang menyibak kabut
menunjukkan jalan bagi nabi gunung di atas kuda besi yang menderum
disinilah di lembah kabut padang savana
aku mulai bersyukur dengan perjalan ziarah menemui senyummu
menapak tangga pendakian menuju puncak kepundanmu
disinilah, di tempat para pemuja dewa melebur persembahan
bahagia syukurku memuncak
maka aku meminangmu lagi
duhai kekasih hatiku
di puncakĀ bromo
aku meminangmu
di atas kepundan yang menyambut setiap persembahan
aku meminangmu
di gema gemerincing tasbih biksu pura upacara
aku meminangmu
di setiap langkah tangga yang gemetar
aku meminangmu
duhai kekasih hatiku
kembalikanlah aku kepadamu
dan rengkuhlah aku tanpa batas