Di Puncak Bromo aku meminangmu

Wednesday, December 23, 2009
By author

: persembahan untuk para peziarah bromo

aku selama ini selalu menjauh darimu

terlena gemerlap memikat pesona nikmat selainmu

aku sempat menghujatmu

karena jalan menujumu serasa makin jauh dan berat

antara kantuk dan sadar yang penat

aku sempat menghujatmu

karena jalan menujumu begitu terjal dan berliku

ditusuk dingin kabut dini hari dan kantung udara yang menyempit

lalu tiba-tiba engkau tersenyum kepadaku

ketika kantung udaraku memadat berhenti menghela

seolah duniaku sedangĀ  berakhir

engkau tersenyum kepadaku di balik wajah seorang sahabat

yang menyadarkanku dan menepuk punggungku

“ayo,pak, aku temani”

lalu tiba-tiba engkau tersenyum kepadaku

ketika aku merasa terlunta dalam senyap kesunyian

seolah sendirian di tengah lautan peziarahmu

engkau tersenyum kepadaku

lalu menjadikanku imam

bagi sekeluarga peziarah yang pernah bersujud di makkah dan madinah

pemimpinnya mengajak serombongannya makmum di belakangku

pemimpinnya tersenyum dan mengangguk kepadaku

diluruhkannya tangannya di hadapanku dan berkata

“mari, pak imam, waktunya makin sempit, semua sudah siap”

aku bertanya-tanya kepadamu

adakah engkau selalu tiba-tiba tersenyum kepada setiap peziarahmu

ataukah sesungguhnya engkau selalu tersenyum tanpa batas

hanya saja para peziarahmulah yang lambat menyadari senyummu?

lalu engkau tersenyum di sampingku

mencangkung di bibir puncak negeri di atas awan

menunggui mentari terbit dari bibirmu

engkau tersenyum bersamaku

dan menghamparkan kepadaku negeri lembah bawah kabut

engkau tunjukkan kepadaku puncaknya yang kecil

jauh di bawah setelapak kakiku

engkau berbisik lembut di telingaku

“barangsiapa merasa dirinya tertinggi di puncak

maka sesungguhnya dia sedang membangun fatamorgana

dan menyangga tiang-tiang kerajaan dengan debu kehancuran”

engkau tersenyum bersamaku

menghayati mentari yang mengintip kuning jingga

lalu kuning emas

lalu terang benderang

senyummu terpancar terang benderang bersama mentari yang penuh

memantul di kabut lembah yang berpilin-pilin

memancar di setiap wajah peziarah

dan masa laluku terlarut bersamamu

yang tersisa tinggal senyummu di mana-mana

terpancar terang benderang dan aku hanyut

dalam lembah kabut yang memadat pekat

tersembunyi makhluk-makhluk inferi lembah nindalf

senyummu terang benderang menyibak kabut

menunjukkan jalan bagi nabi gunung di atas kuda besi yang menderum

disinilah di lembah kabut padang savana

aku mulai bersyukur dengan perjalan ziarah menemui senyummu

menapak tangga pendakian menuju puncak kepundanmu

disinilah, di tempat para pemuja dewa melebur persembahan

bahagia syukurku memuncak

maka aku meminangmu lagi

duhai kekasih hatiku

di puncakĀ  bromo

aku meminangmu

di atas kepundan yang menyambut setiap persembahan

aku meminangmu

di gema gemerincing tasbih biksu pura upacara

aku meminangmu

di setiap langkah tangga yang gemetar

aku meminangmu

duhai kekasih hatiku

kembalikanlah aku kepadamu

dan rengkuhlah aku tanpa batas

Leave a Reply